Rabu, 02 Juni 2010

Selalu belajar untuk IKHLAS

Senin, tanggal 31 Mei 2010

Assalamu’alaykum BLOG...sudah lama tidak menulis disini...sudah lama tidak memberi yang terbaik setiap hari...sudah lama...

Mudah – mudahan tulisan dari kamar malam ini dapat memberikan sesuatu yang terbaik untuk hari ini.

Hari ini hari pertama pekan ketigaku di RS Ujung Berung. Setelah tiga hari libur panjang dan menghabiskan waktu liburan sebagai medik di sebuah vendor Outbond yang luar biasa, rasanya canggung kembali menjejakkan kaki disana. Tiga hari tidak memegang pasien, tiga hari lupa akan apa yang harus dilakukan pada pasien itu...dan pagi itu ketika sampai, sudah disambut oleh rekan sesama dokter magang dengan segala “kelebihannya”

Tapi...tadi sore tampaknya Allah menyadarkanku akan sesuatu. IKHLAS. Demi Allah, aku ternyata sedang lupa akan yang namanya IKHLAS...karena surat elektronik seorang relawan yang berangkat ke Gaza, Palestina tentang perjalanannya.

Ternyata betapa inginnya aku dinilai oleh manusia, betapa riya dan juga sum’ah telah merasuk sedikit demi sedikit dalam jiwa. Sehingga aku merasa tidak rela ketika rekanku datang menyambutku di depan pintu ruang perawatan sambil tersenyum lalu memberiku semacam “instruksi” untuk aku lakukan pada pasienku. Sehingga betapa inginnya aku dianggap oleh rekan-rekanku selain dokter sebagai seorang yang berbakat, dokter yang bisa segala hal. Sehingga betapa inginnya aku mengetuk kentongan pengiring musik “helaran” dengan cara yang nantinya akan membuat banyak manusia terpesona. Sehingga betapa inginnya aku dipanggil “dok” dan dianggap pintar dan banyak tahu segala hal. Demi Allah, ternyata rasa itu merasuk kedalam jiwa, mengotorinya tanpa aku sadari. Sehingga benar kiranya...saat Ibnu Abbas menafsirkan QS Al Baqarah ayat 22 dengan “Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam” dan syirik paling kecil itu adalah Riya, na’udzubillahi min dzalik...

Benar adanya, kebolehan kita untuk berambisi.Tapi sungguh, ternyata aku lupa bahwa segala sesuatu hendaknya disandarkan pada Allah semata. “Ah...idealis!!!”, benar...tapi, izinkan Dimas yang serba lemah ini memuji syukur kehadirat Allah swt atas apa yang telah diberikan.

Diatas langit masih ada langit, disana banyak yang lebih berbakat dan hebat, dan lebih pantas ditepuk-tangani. Disana banyak yang lebih pintar sehingga tak pantas rasanya merasa pintar. Di rumah sakit bahkan perawat banyak yang lebih lihai daripadaku, sehingga tak pantas rasanya merasa bangga hanya karena dipanggil “dok”.

Sungguh, aku mohonkan pada Allah kekuatan untuk ikhlas, untuk menghadapkan wajah hanya pada Allah dan mengharap pandanganNya saja.

Ya Allah...perkenankan...

Tidak ada komentar: