Senin, 30 Maret 2009

Hujan di Sore Itu

“Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
Al Anfal, 8:11


Malam itu hujan deras. Malam itu malam Jum’at. Malam itu malam Ramadhan. Malam itu malam perang badar. Allah menurunkan hujan deras dehingga pasukan musyrik basah kuyup dan menghambat mereka untuk maju. Mereka merasakan kedingingan, kesal dan kesulitan karena merasakan berbagai kesulitan. Namun berbeda, bagi pasukan muslim, hujan itu seakan membersihkan mereka dan menggosok daki-daki syetan dari diri mereka. Bumi menjadi kesat, pasir menjadi kuat, pijakan kaki mereka mantap, tempat mereka menjadi rata dan hati mereka bersatu. Malam itu Rasulullah yang tercinta lebih banyak mendirikan sholat, penuh munajat, memohon pada Allah SWT akan kemenangan. Sementara orang-orang Muslim lainnya tidur dengang nyenyaknya seakan langit menyelimuti, alas pasir serupa permadani bulu domba nan nikmat hingga Allah menyempaikan kabar gembira bagi mereka keesokan harinya.

“(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya, dan Allah menyrynkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan syetan dan untuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian)”
Al Anfal, 8:11


Begitupun sore itu. Sore itu Hujan deras. Sore itu kampanye terakhir. Sore itu semangat begitu membahana, mengisi langit kota Bandung. Sore itu kami dalam sebuah ikhtiar yang suci. Berdasarkan niat mulia, membersihkan negeri ini dari berbagai pengotor. Dari pemimpin yang dzalim, dari pemimpin yang pencuri, dari pemimpin yang tidak amanah, dari pemimpin yang suka maksiat. Sore itu adalah dakwah yang menyeru kepada cahaya terang, ditengah gelapnya dunia.
Pukul 12 awan mendung mulai menggelayut di langit bandung. Dan gumaman yang terdengar seakan melemahkan.
“Ya...hujan euy...”
Tidak, sekali-kali tidak saudaraku, sekalipun Allah menurunkan hujan maka Allah akan membersihkan kita, dan menunjukkan kita pada kesejukan hati, memisahkan kita dari kaum munafik, menunjukkan pada dunia bahwa hujan ini justru menguatkan kita.
Seandainya panas, itupun takkan menyurutkan langkah kita untuk terus berjuang, untuk terus menyeru. Karena sesungguhnya Allah punya rencana yang indah untuk kita.
Dan itu terbukti saudaraku, hujan tidaklah makin kecil, bahkan makin besar. Namun apa yang kita lihat disana? Tidak ada langkah surut, pergi berlarian, kocar-kacir mencari tempat perlindungan. Karena hati kita sudah Allah kuatkan dengan sebuah komitmen keikhlasan, Allah bersihkan hati kita dari kelemahan dan kemunafikan. Maka apalah artinya tetesan hujan dibanding kobaran semangat. Justru ia akan menjadi uap yang membumbung tinggi mengangkasa, sehingga manusia melihat dan berseru “Subhanallah...Maha Suci Allah yang telah mempersatukan hati-hati kaum Muslimin”.
Allah turunkan hujan, untuk membersihkan hati kita, menguatkan hati kita, menyatukan hati-hati kita, sekaligus merontokkan kesombongan musuh-musuh Allah, serta menciutkan hati-hati mereka.

“Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir”
Al Anfal:12


Wassalam
Dims Al Qassam

Tidak ada komentar: