Sabtu, 25 Februari 2017

ABANG ABANG BAPERAN

(Masjid Raya Medan, Al Mashun, lepas maghrib berjamaah) 

Jadi, 2 hari ini saya berada di kota Medan untuk menguji kompetensi dokter di salah satu universitas disana. Mau nebak universitas apa? Pasti ga bisa, soalnya ada 5 universitas yang menyelenggarakan... yee ye ye ye yee yee...(nyebelin banget... haha). Ini kali kedua saya jadi penguji eksternal, dan saya kira Medan panas, ternyata nggak...

 
(Lapangan Merdeka Medan, malam minggu)

Berbeda dari tempat lain yang pernah saya kunjungi, yang biasanya orang-orang memanggil saya "koko" atau "koh", di Medan ini di berbagai tempat saya dipanggil "Abang", which is,  kan hati ini jadi baper... misalnya gini: "abang mau beli apa?" atau, "ada lagi yang bisa dibantu bang?", atau "mau makan apa bang?", atau "abang mau pesan minum? Teh atau kopi?", dan masi banyak lagi... termasuk "Bang, minta duit baang, lima ratus aja bang, belum makan...".

Geezzz... ditanya kayak gitu kan, jadi baper ya..., jadi pengen jawab, "terserah adek aja, abang terima deh mau sediain apa..." ,tapi kan masalahnya, itu di restoran... masa mbak-nya yang milihin...

Atau...jadi pengen bilang, "ambil aja di dompet dek, berapa aja yang adek mau...", tapi kan... masa?...

Atau... bilang, "Dek, maaf, jangan gitu, hati abang udah ada yang punya..." , tapi kan ga ada yang nanya... kan... ah sudahlah...

Itulah kisah baper saya di Medan, menjadi Abang Kokoh Dimas... ah, sudahlah...Dek...

25 Feb 2017, 20:30 malam
Otw pulang ke Bandung, sebelum pekan depan, abang terbang lagi ke adinda tambatan hati di Palembang.

Dimas

Minggu, 18 Desember 2016

Hari Minggu Bersama Ayah

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hari ini adalah hari Minggu yang luar biasa sangat indah (ini merupakan hiperbol yang saya lakukan supaya tulisan ini menarik untuk dibaca. Lanjut ah!!!).

Saya terbangun karena ada yang ndusel-ndusel nyelip ke ketek, ga taunya anak sipit yang namanya Aran pelakunya. Alhamdulillah, terbangun sehingga bisa solat subuh tanpa terlambat. Niat yang sangat baik bukan?, tapi anak ini ternyata menghalangi pergerakan, dan alhasil kehangatan yang ditimbulkan menyebabkan setan membisiki untuk tidur lagi, dan sukseslah dia. Sayapun tertidur lagi dan terbangun lagi jam 5:30...(menyedihkan).

Cukup, saya ga mau cerita itu. Karena saya belum cerita tentang siapa Aran itu, dan bagaimana cerita diatas bisa terjadi. Mungkin di posting selanjutnya...mungkin ya.

Jadi Aran itu adalah.... (ah nanti aja ahhh, suka gini sekarang tu, ga fokus mau cerita apa...)

CUKUUUP!!!

Tadi pagi saya dan Aran jalan-jalan ke Sarijadi dalam rangka berhari Minggu, Ayah's Day. Ombai(nenek)-nya dan Bakas(kakek)-nya mau berangkat kondangan, jadi Minggu ini anak ini jadi tanggung jawab saya. SIAPP LAAH...

OK, balik lagi ke jalan2, akhirnya kami mulai perjalanan petualangan panjang ini. Kurang lebih 100...meter perjalanan... Aran minta gendong...heuu...ini sih namanya bukan perjalanan petualangan panjang, bukan pula jalan santai...ini namanya GENDONG SANTAI. Ah, Aran nih... alhasil perjalanan panjang ini menjadi perjalanan gendong-jalan-gendong-jalan, lalu sampai ke Patung Tangan Setra Duta, lalu jalan lagi mampir ke sebuah pos kesehatan, salaman, ngobrol dikit, beli balon "Cars", liat hamster, beli sate, balik dengan sedikit peperangan kecil karena Aran pengen diem di sebuah lapak buku...(bocah ini suka buku sangat), lalu diolo dengan lihat Patung Tangan besar di pintu masuk Setra Duta itu.

Kami pulang lewat jalan berangkat tadi, tapi improvisasi dengan melewati jalan tanah dan rumput yang masih banyak pohon pinus (duh, seneng banget ada beginian di deket rumah). Disana banyak anak2 muda ngongkrong, anak kecil bersama orang tuanya juga banyak. Tetiba tercetus ide, anak-anak ini adalah masa depan bangsa, gimana kalau saya bikin outbond kecil gratis buat mereka, bulanan aja. Outbond dengan permainan kepemimpinan yang bisa sja mereka dapatkan dengan harga mahal, tapi mereka mendapatkannya secara gratis. Tar ah coba, mari kita jadikan agenda setahun kedepan.

Jadi...siapakah Aran itu?

Kitu da cerita teh suka ga nyambung.

Sekian
Dimas


Jumat, 09 Desember 2016

LANJUT...!!!


Bismillah,

Sudah sangat lama semenjak saya menjejakkan tulisan di blog ini. 19 September 2013, 3 tahun yang lalu. Apa yang mau saya tulis sekarang? sementara menulis adalah sebuah skill, keahlian yang akan tumpul jika tak terasah.

Sementara saat ini aktivitas dipadati oleh kegiatan berupa membuat modul, mengerjakan bahan kuliah, mengerjakan penelitian, berjualan pempek, praktek, bermain, istirahat, apa lagi?

Masih sama dengan 3 tahun yang lalu, saya seorang dosen, bekerja di Fakultas Kedokteran, menghabiskan waktu melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi. Ada yang tau apa itu Tridarma Perguruan Tinggi? Itu lho, konsep tugas utama seorang dosen di Universitas.

Tridharma, artinya tiga kewajiban. secara kontekstual, ini adalah 3 kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang dosen, antara lain:
1. Pendidikan
2. Penelitian
3. Pengabdian Kepada Masyarakat.

Cukup ah, panjang dan serius pembahasan tentang tridarma perguruan tinggi ini. Saya ga tahan dengan keseriusan yang amat sangat, saya cari cara dulu gimana membahas tentang Tridarma Perguruan Tinggi ini dengan santai, baru kita bahas.

Lanjut...!

Ada yang tau Pempek? itu lho makanan khas Palembang itu. Saya jualan Pempek sekarang, dulu brand-nya adalah Pempek Sikam, tapi itu milik adik saya yang sekarang aktif di bisnis kosmetik (produknya parfum-nya oke-oke juga, saya suka parfum soalnya, dan sunnah Nabi katanya). Nama produk saya sekarang adalah Pempek Wak Uus, sekarang lagi cari cara brandingnya. Saya suka Pempek, dan ingin mengajak orang menyukai pempek juga. Kalo ada yang mau pesen, bisa ya ke koh Dimas ini...

Lanjut ah...!

Saya bekerja di bidang keilmuan GIZI, jadi kebayang kan? yang saya lakukan adalah mengajak orang hidup sehat melalui makanan-nya. GIZI ini dikenal sebagai agen yang bisa diatur (modifiable) sebagai pengendali penyakit. Baik buruknya gizi seseorang menentukan baik buruknya kesehatan orang di masa depan. Sebagai contoh, penyakit gula, ini disebabkan karena tidak terkendalinya gizi di masa lalu, sehingga terjadinya penyakit gula, begitu juga dengan penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, dan lain-lain (konon, kanker juga ada hubungannya dengan penyakit).

Bicara GIZI juga, saya ada seorang teman, wartawan, yang pertama kali saya kenal dengan berat badan besar, tampak gemuk, pergerakan lambat dan banyak keluhan (maaf ya kawan saya yang merasa...hehehe). Lalu ngobrol punya ngobrol, tanpa sadar saya cerita lah tentang bagaimana seharusnya makan yang benar khususnya buat beliau (yang ga sadar adalah saya). Lalu berselang berapa kali ketemu, yang saya lihat adalah, beliau jadi kurus dan tampak lebih fit. Pertanyaan saya pertama adalah, "lo kurusan ya sekarang?".
"Kan ngikutin saran Dimas."
"ha?" dan saya pun mikir, kapan saya konseling?, dasar wartawan ya, dia bisa dapat informasi tanpa informan menyadari telah memberi informasi. hahaha...peace kang.

Lanjut...

Penelitian, sekarang senang sekali mencoba menulis lagi. semoga isi blog ini, kalaupun diisi bisa lebih bermanfaat, sebagai pengiklan untuk info-info bermanfaat. walaupun seringkali saya sewot jika ada mahasiswa ambil bahan kuliah untuk dipresentasikan dari BLOGSPOT. "Mahasiswa macam apa kamu dek?!...", lalu saya pun dalam hati bilang, "Dosen macam apa kamu pak?".

Lanjut...

Children, are the most powerful energy in this world. Jadi sekarang saya sedang belajar manajeman waktu dan prioritas agar bisa punya waktu banyak bersama anak-anak.

Lanjut...

Udah ah, lanjut lagi nanti ya.

Klinik Gizi, Klinik Utama Al Islam Awibitung
Bandung
8:00-10:00
Sabtu, 10 Desember 2016
Beres jaga malam, lanjut jaga klinik konseling Gizi.
Ayo ayo yang mau diet mendekatlah...

Sekian
Dimas E Luftimas


Kamis, 19 September 2013

Working With Style




Saat saya mulai menulis artikel ini, saya memulainya dengan googling frase working with style, dan saya baru menemukan 1.790.000.000 pencarian untuk frase ini, namun tidak ada artikel mengenai frasa ini di wikipedia®. Dari hasil pencarian yang saya lakukan, tampaknya frasa working with style  banyak menggambarkan pekerjaan desain dan seni.
Saya akan membicarakan tentang working with style yang lain, yang biasa kami sebut WWS suatu kebiasaan yang sedang saya dan 3 orang kawan gemari. Ketika didera kesibukan pekerjaan yang membuat orang lain bertanya “apa sih yang lo kerjain” dan saya akan menjawab “lo ga akan kebayang”, maka kami biasanya keluar dari kantor lalu mencari suatu tempat yang cukup nyaman untuk melakukan pekerjaan dan menyelesaikannya. Pekerjaan yang saya dan kawan-kawan lakukan sebenarnya bukan suatu pekerjaan istimewa yang akan membuat orang lain tercengang karenanya. Hanya pekerjaan yang sama saja dengan saat saya melihat orang lain mengerjakan sesuatu dan berkata, “ngapain sih orang itu, kok kayaknya sibuk banget”, yah, sama tidak terbanyangnya. Nahh, saat ini, sekali lagi saya tidak akan membicarakan tentang pekerjaan saya sebagai seorang dosen junior yang juga seorang dokter (lho...), saya akan membicarakan tentang working with style.
Sejak setahun lebih yang lalu, saya dan beberapa kawan sering bekerja di luar kantor sambil makan, minum kopi atau apapun dan pekerjaan kami-pun selesai. Inilah yang kami sebut working with style, dimana proesionalisme kerja dipadukan dengan hobi makan diluar di tempat yang terjangkau (tentunya dari segi harga atuh...), kadang sesekali di tempat mahal dan bisa pesan makanan aneh (biasanya pada kondisi yang biasa kami sebut “saat harga tidak menjadi masalah”), sehingga menyelesaikan pekerjaan menjadi sesuatu yang nikmat dan menyenangkan. Mengkonsep dan mengerjakan urusan kepanitian super camp pernah kami kerjakan pada working with style ini, menyiapkan bahan kuliah dan lab, mengkonsep ujian mahasiswa, mengerjakan tugas kuliah S2, membaca dan mengkaji jurnal, mengerjakan tesis, bahkan sekarang saya menikmati “menulis” pada saat working with style ini. Nah, ini yang menarik, dengan WWS ini kami bisa menyelesaikan semua itu dengan stress yang minimal. Yess...
Menjadikan working with style sebagai suatu bagian dari life-style tentunya memiliki konsekuensi tertentu, beberapa lah. Yang saya rasakan tentunya adalah konsekuensi finansial (istilahnya adalah labil ekonomi®). Hal ini menjadi konsekuensi yang tidak terlepaskan dari bagian aktifitas baru yang menyenangkan ini. Mau tidak mau saya harus rela merogoh kocek untuk menjalankan aktivitas ini, untuk menyiasati jadi boros yang tidak produktif, maka seringnya kami memilih tempat yang bervariasi terutama dari sisi harga dan ternyata banyak tempat yang nyaman untuk WWS tapi tidak mahal (akan ada referensinya pada artikel lain). Konsekuensi lain, pengetahuan tentang tempat-tempat menarik untuk working with style dengan berbagai variasinya, mulai dari variasi harga, konsep, tingkat keenakan makanan, hiburannya dan lain-lain.
Saat ini saya sedang melakukan working with style yang kesekian, sudah lupa yang keberapa kali, yang jelas saya bersama kawan-kawan yang jam terbang working with style-nya lebih banyak daripada saya. Kali ini di tempat yang menurut saya cukup menarik dan bagus untuk working with style, dengan konsep perpustakaan dan sangat ke-rumah-an, disertai hiburan musik live yang terkesan sedang kursus piano tapi kok menurut saya bagus-bagus aja. Nah, untuk cerita tempat ini akan ada khusus artikelnya dari saya atau mungkin kawan-kawan saya. Membuat tulisan ini mengingatkan saya pada awal pertama melakukan WWS ini bersama pak koordinator tahun, pak Hasan, dan kawan-kawan pecinta WWS, seru...
Sekian dulu ah, tulisan tentang working with style ini belum pernah saya temukan di tempat lain. Semoga bermanfaat. Terima kasih untuk indah, Halley dan Ajeng. Selamat bekerja, khususnya menyelesaikan tesis. --ari keur WWS teh tong sare wae, meh gancang beres tesis-na—
Wassalam
Dimas Luftimas

Jumat, 26 April 2013

The Power of Bismillah

Makan Malam Kali Ini Judulnya “The Power of Bismillah”

Judul kecilnya, “aku salah mencari tempat makan, lindungi aku ya Allah”

Aku baru pulang dari Lab Kultur Sel Eijkman setelah kerja bakti membangunkan satu dari dua puluh sel yang baru dibawa dari Jepang oleh seniorku. Diatas motor matic perut keroncongan dan yang terbayang adalah soto sulung dan sate...hmmm...nyam nyam. Kebetulan dekat dengan kosanku ada tukang sate dan soto madura yang enak sekali, dan aku berencana mampir kesana untuk membeli makanan nikmat itu.

Sayangnya setiba di kedai soto pinggir jalan dekat kosanku itu sotonya sudah habis, yang tersisa tinggallah satenya. Ah, kalau gitu tak jadi saja, karena tenggorokanku sedang gatal sekarang, inginnya makan yang hangat-hangat dan berkuah. Aku urungkan niat untuk mampir, lalu aku melaju lagi melewati kosanku untuk mencari toko swalayan untuk membeli k*l*r yang sudah krisis karena aku belum sempat cuci k*l*r, dan juga mencari makan malam. Dan akhirnya aku sampai di sebuah toko swalayan Indonesia yang ada mart-mart-nya itu, aku membeli k*l*r yang kutuju lalu membeli teh kotak.

Selesai dari sana aku berencana kembali ke kosan, namun melewati jalan yang lain. Tak jauh, hanya sekitar 10 meter aku melihat ada tenda bertuliskan soto sulung dan sate. Gairahku terbakar lagi, perut keroncongan lagi, otak mengingat kembali kepulan asap soto sulung dan gurihnya sate daging kambing dengan nasi yang pulen dan kenyal di mulut. Aku putuskan untuk berhenti. Tapi...aku melihat tenda itu agak suram, meja-nya berantakan, pembakaran satenya tidak begitu berasap, dan tidak ada penjualnya. Sepertinya otakku sudah dibanjiri kuah kuning soto sulung yang gurih dan nikmat sehingga aku masuk saja ke bawah tenda itu. Tiba-tiba...”aaargh!!!” aku terkejut (sebetulnya nggak sampe ngejerit sih), karena ada yang mencolek tanganku sambil bertanya, “sate ayam apa kambing?”, ternyata penjual sotonya yang bertanya. Tapi...”tidaaaakkk...”, tukang sotonya yang sudah tua itu ingusan dan tampak seperti orang sedang pilek dan dia menghisap-hisap ingusnya melalui hidung. Ya sudahlah tidak apa-apa.

“Sate kambing lima ya mang, sama soto satu”, aku memesan makanan diikuti rasa menyesal karena tidak bertanya, “mang, ada spagheti bolognaise ga?”. Karena tidak enak kalau aku kabur begitu saja, maka aku mencari tempat duduk yang sama saja dimana-pun, meja didepannya begitu penuh dengan plastik kerupuk beraneka rupa. Teh kotak yang aku mulai buka di depan mart tadi aku letakkan dihadapanku berikut kunci motor yang kubawa. Supaya lebih santai, aku chatting dengan kawan, kekasih dan siapapun. Si mamang sibuk mengipas sate pesananku, dari belakang aku perhatikan mamang ini tetap menghisap-hisap ingus melalui hidung. “Ya Allah, semoga ingusnya tidak menetes...”, doaku dalam tangis di hati.

Tak lama, datanglah 5 tusuk sate pesananku diatas saus kacang menggoda dengan taburan bawang goreng diatasnya, “terima kasih pak...” aku memasang senyum sambil mendongak ke arah bapak tukang sate tersebut, yang ternyata menatapku kosong, dengan ingus yang tampak masih ada... “tidaaaakkkkk...”, jeritku dalam hati disertai tangisan pilu. (masih dalam hati juga). Wajahku tetap tersenyum, lalu ia menyodorkan sebuah piring perak (sebetulnya itu alumunium) berisi nasi yang tampak pulen. Lalu ia berbalik dan membawakan kembali sebuah mangkok kepadaku berisi soto babat yang babatnya guede-guede, sebesar potongan handuk ukuran perca. Hampir saja aku meminta pisau ke bapak itu untuk memotong sendiri babat-babat dalam soto itu...sayang sekali, soto itu tidak mengepul.

Aku tersadar aku masih punya teh kotak yang tadi kubeli, sepertinya masih ada setengahnya, sehingga aku simpan dan tidak akan aku habiskan hingga aku selesai makan. Aku ambil sendok, dan sebelum aku sendokkan nasi ke mulutku, biasanya aku seka dulu sendok-sendok tersebut dengan tissue. Alhamdulillah disana ada tissue. Ketika sendok itu kuseka, “APPAAAA???”, tissue itu berubah warna menjadi kuning, “ya Allah, lindungilah aku. SENDOKNYA MASI KOOTOOORRR” rengekku dalam hati. Aku ambil sendok yang lain, lalu kuperhatikan, sama. Kusimpan lagi sendok itu, kucari yang lain, masih sama. Pas si mamang datang membawa air minum ke hadapanku, aku tetap me-lap sendok itu degan tissue (semoga si mamang mengerti), lalu setelah si mamang pergi aku ambil air lalu kusiram sendok it dengan air, begitu juga dengan garpunya.

Dengan membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim” dan doa mau makan aku mulai menyendok soto, lalu menuangkan ke nasiku, lalu aku memakannya. Entah kenapa, yang bisa kuhabiskan hanya sate. Aku termakan sugestiku sendiri. Aku menghabiskan 2/3 nasi yang diberikan, 5 tusuk sate dan sebagian babat seukuran handuk yang ada di sotonya. Dengan cepat dan untuk mendorong makanan masuk ke lambung, aku minum teh kotak yang tersisa. Berdiri seketika, lalu menghampiri tukang penjual-nya, “jadi berapa mas?”
“pakai kerupuk ga?”
“nggak”
“jadi pas dua puluh ribu”
“ini mang, terima kasih ya”, aku menyodorkan uang selembaran hijau (sebenarnya aku ingin juga menyodorkan tissue pada si mamang, tapi takut ia tersinggung) lalu bergegas menuju motor. Aku takut dikejar sambil diacung-acungkan golok dengan kata-kata, “woy! Kenapa nggak diabisin makanannya?”. Sampai motor, langsung kupakai helm, lalu menghidupkan motor dan melaju kencang dengan kecepatan 60 km/jam, KABUR.

Di jalan aku berdoa, “Ya Allah, ini teh Power of Bismillah. Semoga saya tetap sehat”

Sekian
Dimas

Senin, 07 Januari 2013

Sipit itu...SIPIT LO MAS! :p



Suatu hari, dengan setelan kerja, baju kemeja terkancing rapi dengan celana bahan model entahlah model apa itu, dan jaket kulit, saya datang ke sebuah kios batik di mall BTC, Bandung Trade Center. Mbak penjaganya memperhatikan saya saja ketika itu, mungkin terpesona pada ketampanan saya dengan wajah eksotis, oriental, alias sipit tapi warnanya rada gelap. Mungkin mirip aktor atau penyanyi korea. Oke, cukup, jangan teruskan.

Singkat kata, saya ingin mencari kain batik disana, yang mana setelah mencari-cari di tempat lain sudah pada tutup, tinggal satu kios itu saja yang buka. Lalu sambil berjalan melihat kain-kain batik yang dipajang, si mbak-nya mendekati.

“Sedang cari apa ko?”
“KO???!!” Dalam hati sambil senyam senyum, “Cari kain atau baju batik mbak”.
“Buat koko atau siapa?” tanyanya lagi.
“KO lageeh??!!! busseet” dalam hati. “Buat istri saya” saya jawab
“Silakan liat kesini ko, ada banyak pilihan...”

Oke, saya mulai terbiasa dengan panggilan tersebut, “that’s not bad” kata saya dalam hati. Saya mendekati bagian lebih dalam kios dan ada seorang ibu berjilbab kaos (bergo) coklat dengan payet bentuk bunga di bagian atas kiri kepalanya yang tersenyum sambil mengeluarkan beberapa koleksi-nya.

“Ada yang ini ko, warnanya agak gelap, atau yang ini warnanya cerah. Koko mau warna apa?”
“hmm...yang mana ya? Yang cerah deh...”
“ Ato yang ini ko, yang kayak gini laku banget, biasanya orang Cainess (dengan s-nya ditahan “sss” maksudnya Chinese kali ya...) suka yang warna kayak gini, cerah tapi agak pudar.”
“Oiya? Kenapa bu?”
“Saya juga nggak tau ko, tapi emang laku-nya begitu...”
“Oo...” lalu saya mengambil sebuah rok batik dengan warna cerah, namun saya kembalikan lagi, “ada yang agak panjang ga bu? Soalnya istri saya berjilbab”

Si ibu langsung mendongak ke arah saya seperti tak percaya, sebentar sih, tapi saya melihat ada tatapan menyelidik, ga percaya dia...

“Yang ini coba ko, orang Cainess (s-nya agak ditekankan lagi) seneng yang gini, kalau yang panjang yang ini.” Sambil ia menyodorkan 4 potong rok berwarna macam-macam.
“Saya juga Caines bu...”, mencoba mencairkan suasana...”tapi saya muslim” lanjutku.
“Oooh...alhamdulillah banget. Udah cakep, ganteng, muslim, baik lagi...”, pujinya, “ biasanya yang mualaf justru lebih kuat Islamnya dari kita-kita ini”

Gubrak...APPAAAAHH???!!! GW DISANGKA MUALAF...Heu tak percayakah ibu itu kalo saya ini Muslim sejak lahir...hiks. Saya senyam senyum aja didepan ibu itu. Tapi alhamdulillah, dan aamiin atad doa-nya bu.

Esok harinya, saya ceritakan kisah bersejarah ini pada sahabat saya yang orang Binjai itu, dan ia terpingkal pingkal, katanya, “maksud hati mau konfirmasi bahwa muslim tulen, tapi tetep Cina-nya gada yang ngalahin...”. Heu heuu...dan kejadian serupa terulang beberapa kali di kota lain, bayangkan KOTA LAIN... Subhanallah.

Actually, saya emang ada keturunan Chinese sih, dan saya denial kalau saya sipit sampai SMP kelas 1, pas SD kesel banget rasanya kalo dibilang, “Sipiit”, “Diimas Cinaaa, Diimas Cinaa..” tau lah ya gimana membacanya, kayak anak SD lagi ledek-ledekan aja... Sekarang, SO WAT GITU LOH...

Sekian_DimasAyahZiyad_
@dimasluftimas

Selasa, 11 September 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hari ini aku belajar tentang pengorbanan.

Aku belajar dari seniorku yang cantik.

"Jangan pernah ngerasa berkorban, atau jangan pernah melakukan sesuatu kalau kamu ngerasa itu adalah pengorbanan"

Pengorbanan itu penting, tapi saat kita merasa bahwa kita telah berkorban, maka bersiaplah bisikan-bisikan gaib mengarahkan kita untuk menuntut imbalan.

Percaya atau tidak? silakan dibuktikan.

Dengan Cinta
Dimas Luftimas
PS makan lontong ayam

Sebelum Skills Lab

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Lagi-lagi setelah lama tidak menjejeak di laman ini. Rindu lagi...
Sekarang pukul 12.08, 22 menit lagi menuju skills lab sesu 2 hari Rabu. Saya belum sholat, jadi hanya ada waktu maksimal 15 menit untuk menulis.

Sedikit berbagi, untuk diri sendiri, dan ke-elingan-nya.

Pernah suatu ketika menghidupakn televisi, lalu serta merta muncul ustadz Yusuf Mansur. Ia berkata, "Kalau seseorang sedang diberi kesusahan oleh Allah swt., maka itu berarti Allah sedang rindu padanya."

Benarkah?, lalu mundur lagi, teringat akan sebuah literatur yang menuliskan, "Bisa jadi Allah memberi ujian pada seorang mukmin karena Ia ingin mendengar suaranya setiap hari, setiap malam setiap waktu."

Lalu?

Menyadarkan diri akan sesuatu yang jadi tujuan utama dalam hidup. Ridha Allah. Apapun itu selama Allah ridha maka takkan terasa. Maka siapkah kita dengan keridhaanya?

Takkan Hina orang yang dihina, Takkan Mulia orang yang dipuji. Maka, kepada siapa kita akan kembali, dan mengembalikan semua perkara?

Jadi, mari mengingatkan diri sendiri, Ridha-kah Allah swt., dengan segala urusan kita?
Yang kita lakukan saat ini, memuliakan diri kita atau menghinakannya?

Sekian.

Waktu sudah 12 menit menuju skills lab sesi siang.
Wassalam.

Dengan Cinta,
Dimas Luftimas.
PS Kangen Ziyad.

Rabu, 09 Mei 2012

PROYEK PRIBADI HARI INI

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Lama tak menjejak di blog ini. Rindu...

Sesaat lalu ada pesan dalam grup jejaring sosial, ketika membacanya hati sedikit tentram.
Saya copy paste aja lah semoga yang membuat dan Allah meridhoinya.

PROYEK PRIBADI HARI INI
Melatih Hati Agar Ikhlas Dengan Yang Kecil Untuk Menjadi Pribadi Yang Pantas Bagi Yang Besar 

Katakanlah ini sebagai kalimatmu sendiri...
Tuhanku yang memiliki masa depanku,
Seandainya aku tahu tentang masa depanku sebaik Engkau mengetahuinya, pasti aku tak akan segundah ini.
Tapi aku manusia biasa, yang sedang menumbuhkan keberserahan kepadaMu, yang dengannya aku akan hidup lebih daman dan bebas, karena meyakini bahwa tiada niatMu kecuali untuk kebaikanku.
Hari ini aku melatih hatiku untuk mensyukuri yang kecil, ikhlas melakukan dari yang kecil, dan berharap Engkau membuka pintu rezeki yang lebih besar dari kesungguhanku untuk mengerjakan yang kecil dengan kesungguhan yang besar.

Tuhanku Yang Maha Besar,
Aku rindu kehidupan yang besar, tapi aku tak mungkin bisa mencapainya dengan sikap orang kecil yang penakut, yang pengeluh, dan yang suka menduga-duga yang buruk.
Tumbuhkan aku dari pribadi kecil yang banyak keraguannya, menjadi pribadi besar yang damai, mapan, anggun dan berwenang.
Dan semua itu harus aku yang memulai.

Tuhan, tenagailah kesungguhanku untuk memiliki hati yang ikhlas dengan yang kecil, agar aku tumbuh menjadi pribadi yang pantas Kau besarkan diri dan kehidupannya.
Damai sekali ya baca taushiyah diatas, jadi mengingat bahwa Allah bersama persangkaan hambanya.
Maka, Ya Allah, hambaMu yakin, Engkau Maha Mendengar setiap doa, dan Engkau Maha Mengabulkan setiap doa.
Maka pertama, bantu hambamu bersihkan hati, agar Engkau sudi kabulkan doa.

Alhamdulillah.
Terima kasih ya Allah...

Sekian
Dimas E Luftimas

Jumat, 04 Maret 2011

Antara Maribaya dan Majalaya

Bismillahirrahmaanirrahiim
Bandung, 5 Maret 2011
Kebetulan hari ini nggak boleh berisik, tapi tetangga lagi merayakan hari bahagia. Barakallahu laka wa barakallahu 'alayka wa jama'a baynakuma fii khair.

Kemarin, saya dan si Jupe jalan-jalan, dari ujung utara Bandung sampai ujung selatan Bandung. Tapi gara-gara itu aku makin yakin, rezeki Allah itu sudah ada untuk kita. Dan,luar biasanya lagi akan diceritakan disini. Begini ceritanya. Auuuuuuuuuwww...wuw...wuw...(ceritanya lolongan anjing serigala)...der dor...(ceritanya petir).


Hari Jum'at, sudah beberapa minggu ini saya diminta untuk mengisi sebuah klinik, alhamdulillah menjadi sumber rejeki untuk keluarga kecilku. lumayan, salary yang saya bawa pulang sebut saja 300ribu rupiah per 24 jam. Tapi pekan ini, tepatnya kemarin, saya tidak ditawari untuk jaga di klinik tersebut karena dokter yang biasa jaga di klinik itu mau mengisi disana. Akhirnya saya tidak jaga hari jum'at, perasaan sedikit sedih sih, "hiks, tidak ada pemasukan tambahan minggu ini...".

Tak lama, tepatnya hari Kamis siang, setelah saya mendapat SMS konfirmasi bahwa hari Jum'at saya tidak mengisi klinik tersebut, sebuah SMS masuk ke ponsel saya, dengan bunyi ambulans. TUWIWIWIWIWIWIWIWIW, ponsel menjerit-jerit minta dibanting...eh, minta diangkat. Akhirnya saya buka SMS, dan ternyata pesan yang saya terima adalah, "Kang, besok bisa penyuluhan ga?", gayung bersambut, langsung saja aku iya-kan, "Insya Allah bisa, dimana? jam berapa?"

Akhir kata saya mengagendakan untuk mengisi penyuluhan hari Jum'at, pukul 10.00 dan pukul 13.00. Tempat yang pertama di Kiara Condong Bandung, dan tempat kedua di Cibodas, Jalan Maribaya Timur. Tempat kedua ini masih membuat saya bertanya-tanya. Benarkah Maribaya yang selama ini saya kenal? Ah sudahlah, nanti saja konfirmasi ke CP-nya.

Hari Kamis itu tetap berjalan dengan rapat bagian dan rapat penelitian (aku ikut penelitian loh...senang sekali rasanya...). Pulang, lalu saya sampai rumah dan disambut oleh seorang bidadari cantik bermata hitam dan besar, Demi Allah, cantik sekali...istriku dengan senyum manisnya..."Apa kabar ayah?". Hihi, senangnya punya istri. Magrib kami sholat berjamaah, dan sementara itu ponselku kembali menjerit. TUWIWIWIWIWIWIWIWIW...berisikk, mengganggu orang beduaan aja. Setelah solat Magrib, saya ambil ponsel dan membaca pesan didalamnya. Dari Deta, "Aslm Akh, besok bisa gantiin jaga di Ciparay ga?". Saya melirik istri lalu berkata, "Gimana Mi? besok ada tawaran jaga di Ciparay", jawab istriku dengan lembut, "Sok aja Yah, gapapa...". Akhir kata, sya iyakan juga tawaran itu. Sehingga untuk jum'at saya juga mengagendakan jaga di Ciparay pukul 16.30 sampai 19.30.

Pagi hari Jum'at, terbangun seperti biasa, sholat Subuh, lalu bersiap-siap mengantarkan istri dinas. Saya pulang lagi setelah itu. Sampai rumah buka laptop dan internet untuk men-download materi penyuluhan hari ini. GA ADA!!!, belum ada di email, tapi tak apa lah, toh sudah pernah lihat slide-nya. Akhirnya saya telepon CP penyuluhan, dia bilang, "Jam 9 dok...", ah, kesal jadinya, kan katanya jam 10.00, ya sudah, akhirnya saya berangkat juga ke Kiara Condong. Disana saya tanya, "Penyuluhan kedua dimana?"
"Di Maribaya dok..."
"Maribaya mana? lembang situ?"
"Iya..."
"Haaaaa..." kaget rasanya...kaget banget.
"Mending bareng kita dok..." tawar seorang panitia.
"Ngga papa, naek motor aja, saya ada keperluan lagi ke Ciparay nanti sore" sambil tersenyum getir, dan melirik si Jupe.

Selesai penyuluhan pukul 11.00, saya langsung meluncur ke gedung Eijkman, sekalian ambil agenda kegiatan pelatihan hari Senin di bagian Gizi dan Jum'atan disana.

Selesai Jum'atan langsung ciao sama hamda, "pamit duluan Da, soalnya mau penyuluhan". Saya langsung berangkat dengan perut keroncongan, karena pagi tadi cuma makan 2 sendok disuapin istri, pake pare/paria lagi, itu kan ada efek hipoglikemiknya...hiks. Akhirnya sampe gerlong (Geger Kalong), minggir dikit ke warteg dan makan disana dulu.

Setelah itu, tampaknya dimulai penderitaan si Jupe. Perjalanan dimulai ke Setiabudi, lalu ke Lembang sampai Alun-alun Lembang, udara sudah dingin. Jalan terus ke arah Maribaya. Entahlah sudah berapa kilometer, tapi kira-kira 15 menit dari alun-alun lembang dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam, sampailah di pintu masuk air terjun Maribaya. Tanya punya tanya ke penduduk sekitar, "Desa Cibodas di palih mana bu?"
"Oh, tebih keneh, terus weh..." Waw...masih jauh lagi...

Setengah jam berlalu dengan kecepatan rata-rata yang sama, MASIH BELUM SAMPAI...JAUH NIAAAAAANNNNNNNN... sampai panitia nelepon, saya bilang, "Sudah sampai...mmm...ga tau dimana ni, pokoknya sudah lewat Curug aja.."
"Ooo...pokoknya terus aja dok sampe ketemu gapura besi putih ada tulisan desa Cibodas"
"Baiklaahhh..."

Akhirnya sampai juga pukul 14.00, sama, penyuluhan langsung dimulai, dihadapan ibu-ibu PKK Cibodas yang kompak sekali, ada yang omongannya nyerempet melulu ke arah "situ". Penyuluhan selesai pukul 15.00. Bersama Jupe, meluncur lagi melawati jalan yang sama ditemani pemandangan yang sama seperti tadi, Demi Allah, INDAH SEKALI...kalian yang baca harus coba jalan kesana...ga nyesel. Beneran. Jadi kepingin punya rumah disana.

Perjalanan lewat Dago, menuju ke Buah Batu. Setengah jam perjalanan, tepatnya jam 15.30 saya masih di Dago Pakar... "Ya ampuun, sampe gak ya jam setengah 5 di Ciparay". Terus menuju Buah Batu. Setengah jam kemudian sampai di perempatan Buah Batu-By Pass. O ow...macet, jam 16.30 baru lewat bale endah...

Jam 5 sampailah di Ciparay, itu mah lebih mendekati Majalaya.
Jam setengah 8 pulang ke rumah...fuih. Sekian kisahku di hari Jum'at.

Hari ini, waktunya perenungan hari kemaren.

1. Aku dan Jupe jalan-jalan dari tengah Bandung ke ujung Utara Bandung, Maribaya, ke ujung Selatan Bandung, Majalaya. Lebih dari 60 km lho... antara Maribaya dan Majalaya

2. Beberapa hari Jum'at yang lalu waktu saya jaga di klinik yang diceritakan sebelumnya, take home pay sekitar 300ribu-an, dan tahukah kau, yang aku dapatkan hari jum'at kemarin dari penyuluhan dan jaga di Ciparay adalah sama 300ribu-an juga. Demi Allah, dari sini aku makin yakin, Rizki Allah itu memang sudah tertulis adanya, hanya caranya datang saja yang berbeda-beda. Demi Allah, rizki itu datang dari arah yang tak disangka-sangka.

3. Yang penting ikhtiar, setuju dengan dr.Kunkun guruku, rizki akan mengikuti kemana kita berjalan. Kalau kita ikhtiar dengan berlari maka rizki yang akan mengejar kita.

Mudah-mudahan menghibur dan mengispirasi.
Wassalam

Dimas E Luftimas - Ayahnya Utun - Suaminya Ummi

Rabu, 02 Maret 2011

Yang ku tahu tentang kita

Dimas Luftimas: sungguh menggenggam kebenaran itu seperti menggenggam bara api
Dimas Luftimas: dan sungguh mendakwahkannya juga ibarat berjalan diatas duri
Dimas Luftimas: tiada yang bisa mengubah hati kecuali Allah
Dimas Luftimas: sabar dan syukur adalah kekuatan seorang mukmin
Dimas Luftimas: dan doa adalah senjatanya
Dimas Luftimas: Ayah cinta Umi
Dimas Luftimas: Cinta karena Allah
Dimas Luftimas: Sungguh, terikatnya kita dalam pernikahan adalah karena dakwah
Dimas Luftimas: maka dakwah harus menjadi ruh hidup kita
Dimas Luftimas: semangat ya sayang
Dimas Luftimas: taushiyah hari ini
Dimas Luftimas: I Love U coz Allah

PS: mohon maaf buat para pembaca jika terlalu vulgar...maaf sekali lagi.

Sabtu, 29 Januari 2011

Di Sempadan Malam



Di sempadan malam tanggal 29 dan 30 Desember 2010

Malam ini udara begitu menusuk, sambil bekerja, ditemani sosok yang sedang terkantuk-kantuk.
Beberapa hari yang lalu, ingin menulis kata-kata ini

Diantara angin dingin, diantara bulir embun, diantara kabut.
Selepas shalat subuh hari
Melaju pesat, ditemani peluk lembut menghangatkan
Pantasnya, kuucap terima kasih, atas peluk hangat ini
Yang menemani saat diri kembali melaju untuk mengabdikan diri

Istriku, demi Allah, takkan pernah kutemukan dirimu, andai tak berjalan di jalan ini
Jalan menanjak, penuh onak duri, dan sepi
Lelah, nyeri dan sendiri.
Namun ada dirimu, yang menyemangati hingga lelah itu pergi
Yang mengobati hingga nyeri itu berlari
Yang menemani hingga hangat hati dan jiwa ini.

Allah, berkahilah ia, berkahilah kami
Hingga bersama kelak dalam taman-taman berdipan indah, bertatah berlian, berlapis emas
Dinaungi rimbunan pohon buah-buahan
Ditemani aliran sungai dibawahnya, sungai air, susu, dan madu.
Allah, berkahilah kami, jadikan kami sahabat hingga nanti, kau bangkitkan kembali.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penenang hati, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Raden Perwira – Dimas E Luftimas

Minggu, 23 Januari 2011

New...new...new...



Bismillahirrahmaanirrahiim...


Diantara anjuran-anjuran Rasulullah SAW, terselip suatu ibadah yang (kata orang) nikmat, yaitu menikah. Dengannya kita sempurnakan setengah agama bersama takwa untuk setengah lainnya. Dengannya kita menjadi saling berpakaian, menunjukkan keindahan, menutupi kekurangan. Dengannya kita bangun sebuah peradaban.

Maka izinkan kami menyampaikan sebuah kabar gembira, dimana kapal bertemu pelabuhannya, dimana sungai bertemu lautnya, dimana hujan bertemu pelangi.


Potongan paragraf dari web blog undangan nikahan saya...akhirnya saya nikahhh llloooooooohhhhh...
Perkenalkan, istri baru saya...(kesannya ada yang lama...hehehe)
Nick name-nya Echa. Nama panjangnya Eeeeeeeechaaaaaaaa...
Sekian...dan akan ada sequel-nya...

My new life...mohon doa dari semua dengan doa barakah...
Barakallahu laka wa barakallahu 'alayka, wajama'a baynakuma fii khaiir.

Rabu, 30 Juni 2010

Cerita Panas Dari Cianjur II

Seorang wanita cantik usia 26 tahun, seorang pegawai asuransi, datang sendiri ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan panas badan sejak 5 hari yang lalu. Berikut hasil anamnesisnya...

Dokter : Demam sudah berapa lama?
Pasien : Sudah 5 harian dok...
Dokter : Demamnya gimana? langsung tinggi? Atau tiap hari naik?
Pasien : Nggak tau dok, tapi yang jelas ga langsung tinggi. Kalau malam rasanya lebih panas.
Dokter : Oo...

Tampaknya dokter telah mempersiapkan beberapa diagnosis banding untuk pasien ini...sehingga ia juga akan mempertanyakan satu pertanyaan pamungkas yang akan sangat membantu penegakkan diagnosis.

Dokter : Beraknya gimana de?
Pasien : biasa dok...
Dokter : Biasanya gimana?
Pasien : Sambil tersipu-sipu malu, pasien menunduk dan tampak ingin menutup mukanya, ia menjawab “Jongkok dok...”
Dokter : ...(doengggg...gubrakkkk...) untung aja si dokter tak jatuh terjengkang dari bangkunya...

..............................................SUDAH

Senin, 28 Juni 2010

B.C.N.Y

Cerita ini dialami bukan hanya oleh saya...tapi juga dr.Muda (dibaca: dokter muda Muda), temen sesama dokter muda dari UMJ. Saya ceritakan aja versi beliau dulu

Suatu ketika di Cianjur, si Muda lagi lain futsal, terus dengar ada teriakan-teriakan dari sisi penonton.

“Ay lop yu...Ay lop yu...” kata suara jeritan seorang wanita di pinggir lapangan.
“Aih...mati gua...artinya ‘EF' jadi ‘EP’ disini...” kata si Muda dalam hati.

Di kesempatan lain, ia dengar lagi suara-suara jeritan wanita.

“Aku nge-pens sama kamu...” kata suara jeritan lainnya
“Hmm...Confirm sudah, artinya cara ngomong harus disesuaikan dengan kultur setempat...ga usah so’-so’-an Inggris...”

Sampai pada suatu hari, si Muda dapet info tentang suatu tempat di Cianjur, tempat gaul yang isinya tempat makan, main futsal, badminton, tenis, dan berenang, namanya BCNY, singkatannya masih belum ketemu sampai blog ini ditulis(mungkin gak ya: Bandung Cianjur New York: entahlah). Berniat ke tempat itu, dia tanya pada orang sekitar tentang BCNY ini.

“A’ a’, mau tanya, Be Ce En Ye, dimana ya?” tanyanya
“Be Ce En Ye?...maksudnya Bi Si En Way kali...” jawab A’a setempat itu.
“He...he...” sambil senyum getir si Muda meng-iya-kan kata aa itu.

Kejadian yang sama terulang kembali malam ini. Ceritanya mbak-mbak dokter muda Unpad mau pada makan diluar. Daripada ngebiarin wanita-wanita ini berkeliaran tanpa ada pelindung, terpaksa saya sendirian jalan dari kosan abis magrib nyamper mereka, menembus kegelapan dan ancaman diculik "Kunti" dari seorang kuncen Cianjur, Abah Roni. Cukup lama menunggui mbak-mbak itu, akhirnya kami jalan juga...

Seperti biasa, abang-abang tukang angkot ketika melihat beberapa orang bergerombol, tampak rapih dan bersih, bawaannya geregetan pengen nganterin aja. Mereka segera menyambut baik peluang ini.

“Mau kemana a?” tanya seorang yang berwajah tirus
“...mmm...” kami (tepatnya saya) masih diam

Sebetulnya sudah tahu mau naek apa, Cuma karena baru pertama kali ini jalan malem keluar di Cianjur, mana menggiring 5 dayang seperti seorang pemuda tampan ngangon bebek...(hehehe peace girls...), jadi masih agak bingung.

“Kemana? Ke Ramayana? Hipermart? Panembong? Cipanas? Mau kemana?” tanyanya seperti polisi nginterogasi maling bebek.

“...mmm...mau ke Be Ce En Ye...”

Langsung mereka menyambut...”Oooo...Bi Si En Way...!! naek ini aja...” bersemangat dengan gaya bicara orang paling gaol se-Cianjur dan kami adalah orang paling kampring se-Cianjur, abang itu menunjuk ke angkot merah berkode 05B..., "Pren angkut pren,langsung weh ka Bi Si En Way..." lanjutnya pada rekannya didalam angkot merah tersebut.

Sambil nahan ketawa, aku berdiri mematung...tapi, tak lama, yang lain ketawa terutama Didi, Warisya, dan Vitri...karena mereka inget dan tampak turut merasakan apa yang dirasakan si Muda saat itu...Sakit men, sakiiitttt...

Kesimpulannya...Gella...lo belom jadi anak gaol Cianjur cuy kalo belom ke BCNY, belum dapet gelang warna biru tulisannya “BCNY DEWASA”, dan nyebut BCNY dengan benar...BI SI EN WAY...

.......................................................SUDAH

Jumat, 25 Juni 2010

Cerita Panas Dari Cianjur

Rabu, adalah hari seperti biasa. Pagi-pagi pukul 5 lewat, para dokter muda sudah visite bersama dokter spesialis penyakit dalam, seorang Jawa yang sudah lama tinggal di Cianjur. Sampailah pada satu bed berisi seorang nenek dengan keluhan katanya demam.

Dokter : “ibu di rumah panas teu?”. Dengan logat Jawanya yang artinya “di rumah panas tidak?”

Pasien : “kaah...?”, dengan suara bergetar khas nenek-nenek, yang artinya “apaa...?”

Perawat : “di bumi aya panas teu?”. (di rumah ada panas tidak?)

Pasien : “oo...aya dok...”, masih dengan suara bergetar khas nnek-nenek. (Oo...ada dok)

Dokter : “sabaraha lami?”. (berapa lama?)

Pasien : ...

Perawat : “sabaraha dinten?”. (berapa hari?)

Pasien : “ah, tos lami dok..., sasasih panginten aya...”. (ah, sudah lama dok..., sebulan mungkin ada)

Dokter : “ha???”. (Si dokter langsung menegadahkan wajahnya menatap mata si nenek tajam dan bergumam “sebulan???”, mungkin otaknya langsung mencari DD dari penyakit-penyakit dengan keluhan demam yang lama, hingga sebulan. Apa keganasan? Apa infeksi parasit? Apa TBC?. Lalu ia lanjut bertanya “ayeuna masih aya panas keneh?”. (sekarang masih panas?)

Pasien : “alhamdulillah enteu dok...ku pun anak alhamdulillah tos dipangmeulikeun kipas angin...”. (alhamdulillah tidak dok...oleh anak saya alhamdulillah sudah dibelikan kipas angin...”
Dokter dan perawat : “uwwaaatttt...???”

Pasien : ...???

.........................................................................sudah

Rabu, 02 Juni 2010

Selalu belajar untuk IKHLAS

Senin, tanggal 31 Mei 2010

Assalamu’alaykum BLOG...sudah lama tidak menulis disini...sudah lama tidak memberi yang terbaik setiap hari...sudah lama...

Mudah – mudahan tulisan dari kamar malam ini dapat memberikan sesuatu yang terbaik untuk hari ini.

Hari ini hari pertama pekan ketigaku di RS Ujung Berung. Setelah tiga hari libur panjang dan menghabiskan waktu liburan sebagai medik di sebuah vendor Outbond yang luar biasa, rasanya canggung kembali menjejakkan kaki disana. Tiga hari tidak memegang pasien, tiga hari lupa akan apa yang harus dilakukan pada pasien itu...dan pagi itu ketika sampai, sudah disambut oleh rekan sesama dokter magang dengan segala “kelebihannya”

Tapi...tadi sore tampaknya Allah menyadarkanku akan sesuatu. IKHLAS. Demi Allah, aku ternyata sedang lupa akan yang namanya IKHLAS...karena surat elektronik seorang relawan yang berangkat ke Gaza, Palestina tentang perjalanannya.

Ternyata betapa inginnya aku dinilai oleh manusia, betapa riya dan juga sum’ah telah merasuk sedikit demi sedikit dalam jiwa. Sehingga aku merasa tidak rela ketika rekanku datang menyambutku di depan pintu ruang perawatan sambil tersenyum lalu memberiku semacam “instruksi” untuk aku lakukan pada pasienku. Sehingga betapa inginnya aku dianggap oleh rekan-rekanku selain dokter sebagai seorang yang berbakat, dokter yang bisa segala hal. Sehingga betapa inginnya aku mengetuk kentongan pengiring musik “helaran” dengan cara yang nantinya akan membuat banyak manusia terpesona. Sehingga betapa inginnya aku dipanggil “dok” dan dianggap pintar dan banyak tahu segala hal. Demi Allah, ternyata rasa itu merasuk kedalam jiwa, mengotorinya tanpa aku sadari. Sehingga benar kiranya...saat Ibnu Abbas menafsirkan QS Al Baqarah ayat 22 dengan “Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam” dan syirik paling kecil itu adalah Riya, na’udzubillahi min dzalik...

Benar adanya, kebolehan kita untuk berambisi.Tapi sungguh, ternyata aku lupa bahwa segala sesuatu hendaknya disandarkan pada Allah semata. “Ah...idealis!!!”, benar...tapi, izinkan Dimas yang serba lemah ini memuji syukur kehadirat Allah swt atas apa yang telah diberikan.

Diatas langit masih ada langit, disana banyak yang lebih berbakat dan hebat, dan lebih pantas ditepuk-tangani. Disana banyak yang lebih pintar sehingga tak pantas rasanya merasa pintar. Di rumah sakit bahkan perawat banyak yang lebih lihai daripadaku, sehingga tak pantas rasanya merasa bangga hanya karena dipanggil “dok”.

Sungguh, aku mohonkan pada Allah kekuatan untuk ikhlas, untuk menghadapkan wajah hanya pada Allah dan mengharap pandanganNya saja.

Ya Allah...perkenankan...

Jumat, 04 Desember 2009

Yang Datang Dari Arah Yang Tak Disangka-sangka

Kesallll...udah ketik panjang-panjang dengan penuh kesulitan, hilang dalam sekejap...kesallll...ya sudahlah, mungkin Allah ingin melindungi dari sesuatu...Ya Rahman, bantu aku bersihkan hati...

Sabtu, 03 Oktober 2009

Ilmu Ikhlas part 2

Adzan Magrib sudah lewat 45 menit yang lalu.
Pun air wudhu telah membasuh wajah, serta kening ini telah menyentuh lantai menyembah Tuhan Yang Satu-Satunya...
Doa-doa telah mengangkasa dan satu diantaranya adalah supaya Allah karuniakan kelapangan hati dan keikhlasan dalam jiwa ini.

Dalam kepala ini tetap terbesit rasa harus bisa ikhlas. Kalau tidak bisa maka belajarlah untuk bisa ikhlas. Bahkan paksakan untuk IKHLAS...PAKSA terus...

Yang sedang kufahami kini adalah bahwa hidup ini terus berjalan dengan berbagai warnanya.
Kadang Allah beri kesulitan, maka ikhlas menjalaninya dengan sabar.
Kadang Allah beri kenikmatan, maka ikhlas menjalaninya dengan syukur.

Kini Allah mungkin sedang memberiku sebuah sarana untuk kembali belajar. Ada sesuatu yang rasanya ia lancarkan, dan mudahkan layaknya aliran sungai yang mengalir dengan riak dan ombaknya. Maka Allah mulai mengajariku untuk mengikhlaskannya, dan menyandarkannya hanya padanya...sungguh...ujian kesenangan lebih melenakan dan tampaknya syetan bisa dengan mudahnya ikut nangkring di pundak kita sambil mengarahkan jalan kita yang secara perlaha ia belokkan ke jalan yang -demi Allah- tidak ada ketenangan hati di dalamnya...na'udzubillah. Maka ketahuilah, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik dimata Allah. Dan yang menurut kita buruk, belum tentu buruk di mata Allah. Sungguh, tiada tempat berharap selain pada Allah. Tidak sekalipun pada manusia terbaik...

Dosa itu adalah yang syak di hati dan tidak akan pernah memberikan sedikitpun ketenangan hati, meski setiap orang memberi fatwa yang mendukung yang syak itu...

Sekarang lagi adzan Isya...

Maka, lagi, diantara adzan Isya dan qomatnya, aku mohon...berikanlah keikhlasan...berikanlah ketenangan hati Ya Raab...beri kemudahan dan petunjuk...dan beri yang terbaik...Yang Terbaik Setiap Hari...

Allahumma 'arinal haqqa haqqa warziqnattibba'ah
Wa 'arinal baakhila bakhila warziqnajtinabah

Allahumma Aamiin...
Dimsalqassam

Rabu, 30 September 2009

Tanggung Jawab

Malam tadi aku jaga di Ruangan. Ruang rawat anak lantai satu itu, adalah tempat kami, para koas mencurahkan segala ilmu untuk memberikan apa yang kami bisa bagi para pasien, dan tentunya untuk mewujudkan harapan pada orang tua yang anaknya sakit agar lekas sembuh.

Ruangan itu panas, dan tidak ada sinyal sehingga baterai handphoneku cepat habis dan aku tidak bisa Facebook-an. Namun tak masalah, karena aku mendapat giliran jaga ruangan perinatologi, ruangan itu tidak pengap, namun panas karena didalamnya terdapat banyak inkubator untuk menghangatkan bayi. Ada 7 bayi yang harus ku periksa tiap tiga jam. Empat bayi lahir prematur, dua bayi yang sepsis, dan satu bayi dengan gangguan kongenital.

Suatu waktu aku memeriksa seorang bayi. Bayi ini dengan kelainan kongenital atresia esofagus, aku belum tahu apakah sempurna atau tidak, yang jelas, bayi ini tidak dapat minum secara normal, dan dikhawatirkan susu yang diminum akan masuk ke paru-paru dan malah menyebabkan pneumonia, padahal bayi itu sungguh manis, ia cantik.
Di sebelah bayi itu kuperhatikan ada seorang lelaki kecil, wajahnya imut-imut. Pasti ini kakaknya.

Dan ketika aku tanya, “berapa usianya de?”
“dua puluh tahun dok...” sambil mengembang senyumnya, menurutku anak ini cukup ramah, artinya lebih muda 4 tahun lah dariku.
“Ooo...ini adiknya ya?”
“Bukan dok, ini anak saya...”
“Ha...???!!!” aku berusaha meredam nada keterkejutan dari suaraku. “ooo, anaknya...?! dari kapan masuk Rumah Sakit?”
Dan pembicaraan berlanjut sambil kami jalan ke instalasi Radiologi di dekat ruang emergensi.

Aku jadi teringat cerita seorang saudara yang menikah di usia 20 tahun, atas dasar kesiapan dirinya. Ia memang matang, luar biasa matang. Ia terbina, dan ia dewasa. Aku tidak menanyakan lebih lanjut tentang kisah diri pemuda kecil tersebut. Sehingga aku ingin menyamakan saja untuk mengambil manfaat dari cerita keduanya. Bahwa, lelaki kecil itu, yang berdiri disampingku itu ternyata adalah seorang ayah dari bayi yang nafasnya sedang kuhitung. Mungkin posturnya kecil, namun visinya besar. Dialah laki-laki pemberani itu, yang memilih mengambil tanggung jawab dalam usia muda, disaat banyak orang lain memilih untuk mengambilnya dalam kemapanan yang belum pasti. Sejujurnya aku tersentak hebat.

Betul, tanggung jawab itu adalah milik tiap lelaki, namun kapan mereka mengambilnya menentukan keberanian, sekarang atau nanti? Toh bentuk dan berat tanggung jawab itu sama saja, dan yang menjadi penilaian bukanlah berat atau ringannya, namun usaha yang ada atau tidaknya usaha yang dilakukan.
Wallahu a’lam

Pukul 01.00, 4 Juni 2009 @ Nurse Station ruang rawat anak A1 RSHS, disebelah temanku Zafli yang sedang duduk tertidur diatas tumpukan status